Sejarah Desa
Hingga saat ini, baik dari kajian sejarah maupun ilmu kebahasaan, belum ditemukan penjelasan yang pasti mengenai asal-usul nama Sanur. Demikian pula berbagai prasasti yang ada belum memberikan keterangan yang jelas mengenai makna kata tersebut.
Namun demikian, terdapat dugaan bahwa kata Sanur berasal dari akronim “Saha Nuhur”, yang berarti memohon kedatangan ke suatu tempat. Dugaan ini berkaitan dengan kisah yang termuat dalam buku Ekalikita Desa Adat Sanur (1990), yang menceritakan seorang Bendesa atau pemimpin wilayah pada masa lampau memohon kedatangan seorang Brahmana yang memiliki ilmu spiritual tinggi.
Setelah tiba di wilayah tersebut, sang Brahmana mencari tempat yang layak untuk dijadikan kediaman. Dikisahkan bahwa beliau menemukan sebidang tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya dan memancarkan cahaya menjulang ke langit seperti janur. Dalam lontar disebutkan dengan kalimat:
“Sar Tinuwun Tejane Sekadi Janur”
Kisah inilah yang diyakini memiliki keterkaitan dengan asal-usul nama Sanur.
Selain dikenal sebagai kawasan pariwisata, Sanur juga memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Bali.
Pada tahun 1906, sebuah kapal bernama Sri Komala terdampar di Pantai Sanur. Pemerintah kolonial Belanda menuduh masyarakat Sanur melakukan perampokan terhadap muatan kapal tersebut. Tuduhan ini diyakini sebagai dalih untuk melancarkan serangan terhadap Kerajaan Badung.
Peristiwa tersebut kemudian memicu terjadinya Puputan Badung, yang menjadi simbol perjuangan dan keberanian rakyat Bali dalam mempertahankan kehormatan dan kedaulatannya.
Pada tahun 1942, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur sebagai bagian dari pendudukan Jepang di Indonesia. Selanjutnya, pada tahun 1945, pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) juga mendarat di kawasan yang sama. Kedua peristiwa tersebut membawa tekanan dan kesulitan bagi kehidupan masyarakat setempat pada masa itu.
Setelah Indonesia merdeka, sistem pemerintahan desa mulai dibentuk dan dipimpin oleh seorang kepala wilayah yang dikenal sebagai Perbekel atau Kepala Desa.
Pada masa itu, wilayah Sanur terdiri atas tiga Desa Adat, yaitu:
Meliputi Banjar Adat:
Meliputi Banjar Adat:
Meliputi:
Seiring perkembangan kawasan Sanur sebagai destinasi pariwisata yang semakin maju, Pemerintah Provinsi Bali melakukan penataan wilayah pemerintahan.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali tanggal 1 Maret 1980 Nomor 7/Pem/II.a/2-57/1980, Desa Sanur dimekarkan menjadi tiga wilayah pemerintahan, yaitu:
Selanjutnya, melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Nomor 57 Tahun 1982 tanggal 1 Juni 1982, ketiga wilayah tersebut ditetapkan sebagai desa/kelurahan definitif.
Saat ini Desa Sanur Kaja berada dalam wilayah Desa Adat Sanur dan terdiri atas 8 dusun, yaitu:
Walaupun secara administratif wilayah Sanur telah dimekarkan menjadi tiga pemerintahan desa, masyarakat Sanur tetap mempertahankan semangat persatuan yang telah terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga masa pembangunan.
Ikatan sejarah, budaya, dan sosial yang kuat membuat masyarakat Kelurahan Sanur, Desa Sanur Kaja, dan Desa Sanur Kauh tetap merasa sebagai satu kesatuan keluarga besar Sanur. Sebagai simbol persatuan tersebut, ketiga desa menggunakan lambang yang sama, dengan perbedaan hanya pada penulisan nama desa masing-masing.
Sejak berdirinya sebagai desa definitif, Desa Sanur Kaja telah dipimpin oleh beberapa Perbekel dan Pelaksana Tugas (Plt.) sebagai berikut:
| No | Nama | Masa Jabatan |
|---|---|---|
| 1 | Ida Bagus Rai Parwatha (Alm.) | 1984 – 1992 |
| 2 | Ida Bagus Ketut Kiana | 1994 – 2002 |
| 3 | I Ketut Rantun (Plt.) | Maret – November 2002 |
| 4 | Ida Bagus Paramartha, S.H. | 2002 – 2007 |
| 5 | Ida Bagus Paramartha, S.H., M.M. | 2007 – 2013 |
| 6 | I Made Sudana | 2013 – 2019 |
| 7 | Ni Made Dwi Lestari (Plt.) | September – November 2019 |
| 8 | I Made Sudana | 2019 – 2025 |
| 9 | I Made Sudana | 2025 – 2027 (Perpanjangan Masa Jabatan) |
Sejarah Desa Sanur Kaja mencerminkan perjalanan panjang masyarakat pesisir yang tidak hanya memiliki nilai strategis dalam perkembangan pariwisata Bali, tetapi juga menyimpan jejak perjuangan, budaya, dan kebersamaan yang tetap terpelihara hingga saat ini.